Hukum
Alkitab di Bawah Kursi Listrik: Kisah George Stinney Jr., 1944
REDDOCS – Maret, 1944. Alcolu, Carolina Selatan. Dunia sedang terbakar oleh Perang Dunia II, namun di kota kecil ini, ada perang lain yang tak kalah mematikan: perang warna kulit. Sebuah rel kereta api membelah kota itu menjadi dua dunia. Di satu sisi untuk kulit putih, di sisi lain untuk kulit hitam.

Di sisi yang “salah” dari rel itu, hiduplah George Stinney Jr. Usianya baru 14 tahun. Tubuhnya kecil, kurus, dengan berat tak sampai 45 kilogram. Dia hanyalah seorang bocah yang suka menggembalakan sapi milik keluarganya.
Siapa sangka, dalam hitungan 84 hari, bocah kecil ini akan menjadi musuh nomor satu negara bagian.
Pertemuan yang Fatal
Semuanya bermula dari hal yang paling lugu. Bunga. Suatu sore, George dan adik perempuannya sedang bermain di luar. Dua gadis kulit putih lewat dengan sepeda. Mereka berhenti sejenak dan bertanya, “Hei, di mana kami bisa menemukan bunga maypop?”
George menjawab. Hanya itu. Sebuah percakapan singkat antar anak-anak. Namun, ketika kedua gadis itu ditemukan tewas keesokan harinya di sebuah parit berlumpur, kepolosan George berubah menjadi vonis mati.
Polisi datang. Mereka tidak mencari bukti forensik. Mereka tidak mencari saksi mata. Mereka hanya butuh seseorang untuk disalahkan. Dan George—anak hitam yang terakhir terlihat berbicara dengan korban—adalah target yang sempurna.
Ruang Interogasi yang Sunyi
Bayangkan ketakutan itu. George diculik dari kenyamanan rumahnya. Tanpa orang tua. Tanpa pengacara. Dia diseret ke ruangan kecil, dikelilingi oleh pria-pria kulit putih berseragam yang marah, yang memegang pistol di pinggang mereka.
Di ruangan itu, entah dengan janji es krim atau ancaman pistol, polisi keluar dengan sebuah klaim: “Bocah ini sudah mengaku.”
Tidak ada rekaman. Tidak ada tanda tangan. Hanya kata-kata polisi melawan nyawa seorang anak.
Sidangnya? Sebuah lelucon sejarah. Berlangsung tidak sampai tiga jam. Jurinya? 12 pria kulit putih. Pembelanya? Seorang pengacara pajak yang bahkan tidak memanggil satu pun saksi untuk membela George.
Hanya butuh waktu 10 menit bagi juri untuk kembali ke ruangan dan berkata: “Bersalah.” Vonisnya: Hukuman mati dengan kursi listrik.

Eksekusi
16 Juni 1944. Penjara Negara Bagian Carolina Selatan. George berjalan menuju ruang eksekusi. Langkahnya terseok-seok, bukan karena dia melawan, tapi karena baju penjara itu terlalu besar untuk tubuh mungilnya.
Di tengah ruangan, berdiri kursi listrik yang terkenal mengerikan: “Old Sparky”. Masalahnya tragis dan memilukan: George terlalu kecil. Ketika dia duduk, kakinya menggantung, tidak menyentuh lantai. Tali pengikat di pergelangan tangannya longgar.
Para algojo kebingungan. Bagaimana cara membunuh anak sekecil ini? Solusi mereka adalah ironi yang paling gelap. Mereka mengambil sebuah buku tebal—sebuah Alkitab—dan meletakkannya di alas duduk kursi itu.
George Stinney Jr., anak berusia 14 tahun, didudukkan di atas Kitab Suci agar tubuhnya cukup tinggi untuk dialiri listrik mematikan.
Ketika topeng besi dipasang di wajahnya, topeng itu terlalu besar hingga merosot. Para saksi mata melihat air mata mengalir deras di pipi George. Mulutnya gemetar hebat. Dia tidak berteriak marah. Dia hanya menangis.
Lalu, sakelar ditarik. Listrik 2.400 volt menyambar tubuh kecil itu. Topengnya terlepas sepenuhnya, memperlihatkan wajah anak-anak yang hangus dan ketakutan kepada dunia yang telah gagal melindunginya.
George dinyatakan meninggal. Dia adalah orang termuda yang dieksekusi di Amerika pada abad ke-20.

Keadilan yang Terlambat
Tujuh puluh tahun berlalu. Keluarga Stinney tidak pernah menyerah. Hingga pada tahun 2014, palu hakim kembali diketuk di pengadilan Carolina Selatan.

Hakim Carmen Mullen, dengan suara bergetar, membatalkan vonis tersebut. Dia menyebut eksekusi itu sebagai “pelanggaran besar terhadap hak asasi manusia.”
George Stinney Jr. akhirnya dinyatakan tidak bersalah secara hukum. Namanya bersih. Tapi tidak ada permintaan maaf yang bisa mengembalikan nyawanya.

Kisah George bukan hanya sejarah. Ia adalah pengingat abadi tentang apa yang terjadi ketika hukum dibutakan oleh kebencian, dan ketika keadilan kehilangan hati nuraninya. Di atas kursi listrik itu, beralaskan Alkitab, kepolosan telah dibunuh.***